Prototipe riset dengan data satelit publik, bukan produk resmi Pertamina

Dari citra radar satelit ke daftar bercak minyak yang perlu dicek.

Satelit radar Sentinel-1 memotret laut Indonesia setiap ±6–12 hari, menembus awan maupun gelap malam. Minyak meredam riak kecil di permukaan laut, sehingga tampak lebih gelap di citra radar. Alat ini menandai bercak gelap yang mirip minyak, lalu mengurutkan mana yang sebaiknya dicek lebih dulu. Tidak ada bercak yang disembunyikan.

Buka peta lintasan  ·  Baca yang belum pasti  ·  Unduh laporan riset (PDF)

Citra radar Sentinel-1 Teluk Balikpapan, 1 April 2018: bercak minyak gelap yang memanjang ditandai garis merah oleh alat
Teluk Balikpapan, 1 April 2018, sehari setelah pipa minyak mentah putus. Latar abu-abu adalah citra radar Sentinel-1; garis merah adalah bercak yang ditandai alat ini secara otomatis. Titik putih terang umumnya kapal atau bangunan di laut.
73–81%tumpahan berlabel ahli ikut tertangkap, diuji pada 2 kumpulan data terpisah (±3.300 tumpahan)
92%area yang ditandai alat memang minyak, pada data independen
±1 dari 20citra laut berangin tanpa minyak memunculkan alarm palsu
14kejadian nyata di Indonesia & sekitarnya ikut dicoba
Penting dibaca dulu. Semua hasil di halaman ini adalah dugaan dari citra satelit, bukan kepastian tumpahan. Alat ini belum pernah dicocokkan dengan pengecekan di lapangan. Pakai sebagai bahan untuk memutuskan apa yang dicek lebih dulu, bukan sebagai bukti. Daftar hal yang belum pasti ada di bagian Yang belum pasti.

Peta lintasan satelit

Pilih satu lintasan di kiri. Klik bercak di peta atau baris di tabel untuk melihat penjelasannya.

Merah: prioritas tinggi, cek lebih dulu Abu-abu: prioritas rendah, tetap bisa minyak, jangan diabaikan Latar abu-abu: citra radar (makin gelap = permukaan makin licin)
NoPrioritasLuas (km²)Jarak ke pantai (km)Lebih gelap dari sekitar (dB)Skor (0–1)

Cara kerja, dalam 6 langkah

Semua langkah otomatis dan memakai data satelit yang terbuka untuk umum.

  1. Ambil citra radarCitra Sentinel-1 (resolusi 20 m) untuk wilayah dan tanggal yang dipilih diambil lewat Google Earth Engine.
  2. Tandai area gelapModel kecerdasan buatan pengenal gambar (jenis U-Net) menandai permukaan laut yang licin. Model ini dilatih dari ribuan contoh tumpahan yang sudah ditandai. Area di tepi citra dibuang karena sering keliru.
  3. Beri skor dan urutkanTiap bercak diukur: luas, bentuk, dan seberapa gelap dibanding laut sekitarnya. Model kedua, yang belajar dari ±20 ribu bercak berlabel ahli di Laut Mediterania, memberi skor 0–1. Bercak ≥10 km² selalu masuk prioritas tinggi.
  4. Jelaskan skornyaTiap bercak diberi dua alasan utama skornya (dihitung dengan metode SHAP), misalnya "menaikkan skor: kontras tinggi dengan laut sekitar" atau "menurunkan skor: dekat pantai".
  5. Tambahkan konteksPenanda hujan dari satelit GPM (hujan juga membuat bercak gelap), jarak ke hutan mangrove terdekat (≤5 km = pesisir sensitif), dan foto satelit biasa Sentinel-2 bila ada dalam ±1 hari.
  6. Serahkan untuk dicekHasilnya peta, tabel koordinat, dan laporan yang bisa diteruskan. Kepastiannya tetap lewat patroli, foto udara, atau lintasan satelit berikutnya.
Look-alike: bercak gelap yang mirip minyak tetapi bukan minyak, misalnya laut tenang tanpa angin, lapisan alga, atau jejak hujan.
"Tertangkap" (recall): dari semua tumpahan yang benar-benar ada, berapa persen yang berhasil ditandai alat.
Uji independen: pengujian pada data dari peneliti lain yang tidak pernah dipakai untuk melatih alat, supaya alat tidak "menilai dirinya sendiri".

Hasil uji: seberapa bisa dipercaya?

73–81%

Menemukan tumpahan

  • Data Mediterania, 2.630 tumpahan yang ditandai ahli: 73% tertangkap.
  • Uji independen (data Trujillo-Acatitla dkk., 670 tumpahan): 81% tertangkap. 92% area yang ditandai memang minyak.
  • 14 kejadian di Indonesia & sekitarnya: terlihat jelas di 3, mungkin terlihat di 2.
  • Gumpalan minyak yang sudah sampai di pantai (Batam, Bintan, Lampung) tidak terlihat. Radar hanya melihat lapisan minyak di permukaan laut.
8

Alarm palsu: bercak per lintasan pada hari biasa

  • Laut berangin tanpa minyak: hampir tidak ada alarm (±1 per 20 citra).
  • Perairan Indonesia pada hari biasa: rata-rata (median) 8 bercak per lintasan, dan sebagian besar bukan minyak.
  • Skor prioritas menaruh ±73% bercak bukan-minyak di prioritas rendah, tetapi ±25% minyak sungguhan juga ikut ke sana.
  • Penyebab utama alarm palsu: angin lemah, teluk tertutup, dan pesisir pulau kecil. Hujan hanya menjelaskan sebagian kecil (Balikpapan 11%, Karawang 1,5% bercak hari biasa).
6–12 hari

Batas pemakaian: jeda antarlintasan satelit

  • Satelit lewat setiap 6–12 hari. Ini bukan pemantauan langsung (real-time).
  • Alat ini tidak menentukan sumber tumpahan atau pihak yang bertanggung jawab.
  • Saat laut sangat tenang, hampir seluruh laut tampak gelap dan bercak tidak bisa dinilai. Lintasan seperti ini diberi tanda khusus.

Yang belum pasti dan perlu tinjauan ahli

Bagian ini sengaja ditulis terbuka agar pembaca tahu batas kepercayaan setiap hasil sebelum memakainya.

1. Belum ada pengecekan lapangan

Semua angka berasal dari data satelit dan label peneliti lain. Belum ada satu pun bercak di Indonesia yang dicocokkan dengan pengamatan langsung di lokasi pada waktu yang sama.

Perlu: data patroli/insiden internal

2. Contoh lokal masih sangat sedikit

Hanya 24 bercak di perairan Indonesia yang berlabel minyak. Angka ketepatan di atas sebagian besar diukur di luar Indonesia, dengan kondisi laut yang berbeda.

Perlu: penilaian praktisi atas 40 bercak contoh

3. Skor prioritas belum lulus uji

Pada uji independen, bercak prioritas tinggi baru mencakup 76% luas minyak sungguhan (target 90%). Karena itu skor hanya dipakai untuk mengurutkan, tidak untuk membuang bercak.

Perlu: lebih banyak contoh lokal untuk melatih ulang

4. Perairan dekat pantai berbeda dari data latih

97% bercak di perairan Indonesia berjarak kurang dari 10 km dari pantai. Di data latih, hanya 10% yang sedekat itu. Perilaku alat di pesisir, termasuk area tambak yang kadang ikut tertandai, belum teruji dengan baik.

Perlu: tinjauan ahli penginderaan jauh

5. Penanda laut tenang ikut menandai tumpahan

Aturan "laut tenang" (lebih dari 15% laut tampak gelap) juga menandai ±16% citra yang sebenarnya berisi tumpahan. Lintasan seperti ini tetap perlu dilihat manusia.

Perlu: data angin lokal yang lebih rapat

6. Prakiraan arah sebaran belum bisa dipakai

Uji model sebaran di dua lokasi belum lebih baik dari tebakan sederhana. Data arus yang memasukkan pasang surut baru tersedia sejak akhir 2020, dan sejak itu belum ada kejadian yang bisa dipakai untuk menguji (lihat Prakiraan sebaran).

Perlu: kejadian baru dengan dua lintasan satelit berdekatan

Bisakah memprakirakan ke mana minyak bergerak?

Riset ini menguji model sebaran minyak OpenDrift/OpenOil, yang menggerakkan ribuan "partikel minyak" mengikuti arus laut dan angin. Partikel dilepas dari bercak di satu citra, lalu posisinya dibandingkan dengan bercak yang terlihat di lintasan satelit berikutnya. Data arus yang dipakai berasal dari model HYCOM (harian, ±9 km, tanpa pasang surut), dan data angin dari ERA5 (per jam).

Karawang 2019 (laut terbuka, jeda 3,5 hari)

  • 95% partikel terdampar di pantai Karawang, karena bercak dekat pantai dan angin mengarah ke darat.
  • Partikel model menjangkau 5% luas bercak laut berikutnya. Tebakan "bercak diam di tempat" menjangkau 18%.

Teluk Balikpapan 2018 (jeda 12 hari)

  • 4% partikel mengenai bercak berikutnya, sedangkan tebakan "diam di tempat" 47%.
  • Sebagian besar partikel hanyut ke selatan sampai keluar batas data arus.

Artinya untuk lapangan

  • Untuk saat ini model tidak bisa menunjuk posisi bercak di laut.
  • Model bisa dipakai sebagai peringatan kasar pantai mana yang mungkin terkena.
  • Perbaikan berikutnya adalah arus per jam yang memasukkan pasang surut (Copernicus Marine). Datanya sudah bisa diakses dan siap dipakai untuk kejadian berikutnya.
Dua peta uji sebaran: Karawang 2019 (partikel menumpuk di pantai) dan Teluk Balikpapan 2018 (partikel hanyut ke selatan)
Cara membaca: oranye = bercak tempat partikel dilepas; merah = bercak yang terlihat di lintasan satelit berikutnya; garis biru = jalur 120 partikel contoh; hitam = posisi akhir partikel. Kalau prakiraannya bagus, titik hitam akan jatuh di atas bercak merah.
Foto Ade Rizky Darmawan

Peneliti

Ade Rizky Darmawan

Peneliti · Ketua tim CAYMAN

Mahasiswa S1 Sains Data UPN "Veteran" Jawa Timur. Riset ini melanjutkan CAYMAN, proyek kelompok deteksi tumpahan minyak dari citra radar, ke citra satelit utuh di perairan Indonesia. Masukan, koreksi, dan data lapangan sangat diharapkan.

LinkedInKode & laporan di GitHub

Sumber data & lisensi

Kode, laporan riset, contoh laporan lapangan, dan lembar penilaian tersedia terbuka di GitHub.